RANGKUMAN BUKU INDAHNYA BERBISNIS DENGAN ALLAH
Indahnya berbisnis dengan allah adLh buku buatan ust.ayi muzayini E.k
Buku ini menceritakan tentang perjalanan hidup ust.ayi serta car acara sukses dunia dan akhirat
PENDAHULUAN
Anak ini biasa dipanggil Jocong. Entah siapa yang pertama kali memanggilnya dengan nama itu, mungkin karena sejak lahir, ia memiliki rambut lurus setajam jarum pentul, sehingga orang menyebutnya Jocong alias si rambut landak. Ia lahir pada tanggal enam September 1976 di sebuah kampung Mariuk, Jampang Tengah Kabupaten Sukabumi, tepatnya sekitar 78 kilometer dari pusat kota Pelabuhan Ratu. Walau masih terletak di pulau jawa, namun Kampung ini masih tergolong desa tertinggal di Jawa Barat. Sehingga tidak heran jika rata-rata penduduknya tidak tamat sekolah dasar dan berpenghasilan dibawah sepuluh ribu rupiah per harinya.
Ayah Jocong adalah seorang buruh bangunan dan ibunya bekerja sebagai buruh tani. Ia tinggal di sebuah gubuk bambu di pinggiran sungai Cikaso. Satu-satunya sungai yang biasa digunakan untuk segala hajat hidup orang kampung. Sungai inilah yang sering menolong Jocong dan sahabat-sahabatnya membawa getek “perahu kecil terbuat dari gedebong pisang” sepulang sekolah. Jocong belajar di sekolah dasar Negeri Ciomas, yang jaraknya mencapai lima kilometer dari rumahnya. Ia sudah terbiasa berjalan kaki dengan jarak itu, bahkan lebih.
Sungai Cikaso adalah sungai yang mendidik Jocong untuk tetap tegar dan semangat dalam mengarungi takdir kehidupan ini. Terutama inspirasi dan motivasi untuk tetap bertahan di sekolah yang sering bocor dan nyaris roboh itu. Ia tetap bersekolah walau dididik hanya oleh satu guru negeri dan dua guru honorer, itupun mereka kadang tidak datang karena berbagai alasan klasik, khusunya diakhir bulan.
Walau keluarga Jocong hidup serba kekurangan, namun ia cukup bahagia menjalani takdir di desanya. Masa kecil Jocong dilalui dengan bersekolah, mengaji, talaqqi kitab kuning, bermain bola dan mandi di sungai. Kadang-kadang ia mencari kayu bakar, menangkap belut di sawah dan memancing ikan di sungai. Sore hari Jocong kadang menjual sayuran dan buah-buahan keliling kampung. Pulang sekolah ia “ngangon” (gembala) kambing dan mencari rumput untuk ternak, dan kadang juga ia memanjat pohon kelapa setinggi 15 meter sambil melihat pemandangan gunung dan hutan yang tidak begitu indah lagi, karena sudah gundul di cukur para pengusaha kota, dan bibawa entah kemana dan untuk siapa, yang pasti orang kampung tetap miskin dan hanya dapat menikmati banjirnya.
Pada tahun 1986 Jocong dipaksa keadaan untuk berhenti sekolah dasar, karena tidak ada biaya. Kemudian Jocong diminta Ayahnya merantau ke Jakarta, dengan terlebih dahulu menjadi tukang kuli panggul singkong untuk ongkos perjalanannya. Sepakan kemudian ia memulai perjalanan menuju takdirnya, dengan berjalan kaki menelusuri jalan terjal, becek dan berbatu. Jocong kecil terus melaju di jalan setapak untuk mencapai jalan aspal sejauh 25 KM, karena ternyata uang yang dikumpulkannya tidak cukup untuk ongkos naik ojek.
Lapar, lelah, letih, haus, dan panasnya terik matahari tidak membuat Jocong kecil mundur dan menyerah. Walau saat itu usianya baru sepuluh tahun, ternyata harumnya aroma Jakarta bisa membuat jalan terjal dan jauh menjadi terasa sangat dekat. “Jakarta mah hebat, loba hiburan jeng loba duit. Pokonamah genah“. Demikian promosi Kang Jajat sepupunya yang sudah dua tahun merantau di Jakarta.
Tapi apa kenyataannya, sungguh Jakarta sangat berbeda dengan bayangannya. Sampai di kota Metropolitan, Jocong hanya mampu menjadi kernet jahit. Gaji tiga puluh lima ribu rupiah seminggu hanya cukup untuk makan sehari-hari. Setiap malam, ia tidur beralaskan bahan levis dan terkadang tidur di atas mesin obras. Ruangannya sangat sempit, bau apek, panas dan pengap, bahkan kadang tidur ditemani kecoa, tikus got dan curut nying - nying. Namun apalah daya, keadaan memaksa untuk tetap bertahan. Untungnya bang Sabar dan bang Tawakal menjadi teman setianya setiap saat, sehingga ia mampu bertahan.
Tiga bulan kemudian, takdir mengantarkan Jocong ke Panti Asuhan. Tempat bernaung anak-anak yang dianggap sebagian orang kelas rendahan, bahkan anak buangan yang jauh dari perhatian, sedikit kasih sayang dan penghargaan. Sejak itulah Jocong mendapat julukan tambahan “si Molen”. Entah apa alasan dipanggilnya demikian, mungkin karena jocong hari itu bertubuh bulat, dan berambut landak, atau mungkin karena Jocong satu-satunya anak udik, wong ndeso yang unik dan imut yang paling mudah dihina dan dianiaya, karena tidak memiliki sanak saudara di Jakarta yang bisa melindunginya.
Enam tahun lamanya Jocong menjalani takdir kehidupan di Asrama yatim. Selama itu pula mendapatkan suka duka yang sangat berliku. Sungguh benar apa yang dikatakan Buya HAMKA, ulama kharismatik sepanjang masa. “Hidup ini bukanlah suatu jalan yang datar dan ditaburi bunga, melainkan adakalanya disirami air mata dan juga darah”.
Perjalanan takdir kehidupan terus melaju. Benar apa kata pepatah, semakin tinggi kelas yang didudukinya, maka semakin tinggi tes dan ujian yang dihadapinya. Ujian Jocong terasa semakin berat, ketika ayahnya sakit reumatik kronis dan TBC berat. Sungguh ia sangat sedih dan dadanya terasa sesak. Jocong tidak mampu membiayainya di Rumah Sakit, bahkan obatpun terasa sangat mahal. Sampai akhirnya, tiga tahun kemudian ayahnya meninggal dunia, dalam usia sangat muda (43 tahun). Ayahnya wafat meninggalkan istri dan empat anak yang masih bersekolah. Akhirnya semua tanggung jawab berpindah ke pundaknya.
Mulai saat itu Ia harus lebih giat lagi untuk belajar, bekerja untuk menafkahi ibu dan adik-adiknya, dan disaat yang sama ia mulai ingin menyunting wanita sholehah yang didambakannya.
Sungguh, cobaan dan ujian ini kadang terasa sangat berat. Terkadang ia sabar, terkadang ia pun nyaris putus asa. Pada saat itu Jocong belum tahu bahwa ujian dalam perjalanan takdir itu akan menjadi pintu karunia terbesar dalam hidup ini. Karunia yang tidak akan pernah terlupa sepanjang masa. Maha Kuasa dan Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.
Memang pedih rasanya ditinggal orang yang paling dicintai. Sakit rasanya dada ini. Betapa berat pundak ini harus menanggung beban keluarga. Namun derai air mata dan isak tangis tidak akan pernah mengembalikan mereka dan tidak akan menjadi solusi apapun. Sampai akhirnya Allah memberikan hidayah untuk menemukan cara mengarungi kehidupannya. Lalu ia bangkit, bergerak dan memulai hidup dengan semangat dan harapan baru walau tanpa ayah yang dicintainya.
Jocong disadarkan bahwa itulah perjalanan sang waktu, yang harus terus melaju menuju terminal takdirnya. Walau kadang hidup ini terasa sangat berat dan pahit. Tapi tiada sungai yang tidak berhulu. Jocong dan Anda sangat yakin dengan janji Allah
Tidak terbayangkan sebelumnya, Jocong ini bisa belajar di sebuah sekolah favorit di Jakarta, bahkan mampu menyelesaikan sekolah di luar negeri selama enam tahun. Lalu Allah telah memberikan kelapangan untuk bisa menyekolahkan ke empat adiknya. Jocong juga diberi kesempatan untuk bisa keliling ASEAN dan Timur Tengah. Ia juga bisa menjadi sarjana Hubungan Internasional pertama dari Kampung Jampang Tengah. Ia mampu belajar dan mengajar cara berwirausaha, punya penghasilan yang cukup baik, menikah, punya rumah, punya anak, punya kendaraan yang cukup nyaman dan akhirnya tahadust bin’nikmat (berbagi kisah bahagia) dengan Anda melalui buku yang sedang Anda baca ini.
Jocong sangat bersyukur dengan setiap keajaiban dan anugerah Allah, walau ia sadar bahwa tantangan kedepan semakin besar dan lebih berliku. Namun setiap Anak Adam wajib meyakini bahwa di dunia ini tidak ada yang mustahil.
Walau kita sadar bahwa takdir kesuksesan dan kebahagiaan tidak akan dapat diraih dengan gratis. Tetapi semuanya harus dibayar dengan tekad yang bulat, niat yang ikhlas, usaha yang maksimal dan keberanian mengambil resiko. Senada dengan apa yang dikatakan
English Translation
This child was called Jocong. I wonder who first called him by that name, probably because since birth, he had straight hair as sharp as a pin, so people call Jocong aka the porcupine hair. He was born on the sixth of September 1976 in a village Mariuk, Central Jampang Sukabumi district, around 78 kilometers from the city center Pelabuhan Ratu. Despite being located on the island of Java, but the village is still relatively underdeveloped villages in West Java. So do not be surprised if the average of the population do not complete primary education and income below ten thousand rupiah per day.
Jocong father is a construction worker and his mother worked as a laborer. He lived in a bamboo hut on the river bank Cikaso. The only river that is used for all the lives of the villagers. Rivers that often help Jocong and his companions brought getek "small boat made of banana gedebong" after school. Jocong learned in elementary school Ciomas State, a distance of up to five kilometers from her home. He was used to walking distances, even more.
Cikaso river is the river that educate Jocong to remain strong in spirit and wading destiny of life. Especially inspiration and motivation to remain in school are often leaky and crumbling it. He remained in school despite only educated
by the school teachers and two temporary teacher, and even then they sometimes do not come for various reasons classics, especially at the end of the month.
Although Jocong family life of deprivation, but he was happy enough to undergo destiny in his village. Jocong childhood passed in school, lessons, talaqqi yellow book, playing football and bathing in the river. Sometimes he looked for firewood, catching eels in the rice fields and fish in the river. Jocong the afternoon sometimes sell vegetables and fruits around the village. After school he "ngangon" (shepherd) goats and find grass for cattle, and sometimes he climbed a coconut tree 15 meters high, looking at the mountain scenery and forests are not so beautiful anymore, because it was bare razor businessmen of the city, and bibawa either where and to whom, a definite villagers remain poor and can only enjoy the flood.
In 1986 Jocong forced by circumstances to leave school grounds, because there is no cost. Jocong then asked his father migrated to Jakarta, by first becoming artisan porters cassava for his fare. Kick and then he started the journey toward his destiny, to walk along the path is steep, muddy and rocky. Small Jocong keep going on the path to reach the asphalt road as far as 25 km, because it turns out the money that is collected is not enough money to ride motorcycles.
Hungry, tired, tired, thirsty, and heat of the sun did not make small Jocong retreat and surrender. While it was only ten years old, it turns fragrant aroma Jakarta could make the steep road and far be extremely close. "Jakarta mah great, greedy greedy money jeng entertainment. Pokonamah genah ". Thus the promotion of Kang Jajat’s
His cousin who had two years of wandering in Jakarta.
But what in fact, very different indeed Jakarta shadow. Up in the Metropolitan city, Jocong only capable of being sewing helper. Salary thirty-five thousand rupiah a week just enough to eat everyday. Every night, she slept on levis material and sometimes sleep on top of the machine obras. The room was very cramped, musty smell, hot and stuffy, even sometimes sleep accompanied cockroaches, rats and mice Nying - Nying. But whatever the power, forcing the state to stay afloat. Fortunately bang bang Tawakal be patient and loyal friend all the time, so he was able to survive.
Three months later, fate delivers Jocong orphanage. Shelter children who are considered most lower class people, even children waste away from the attention, a little affection and appreciation. Since then Jocong earned the nickname additional "si Molen". I wonder what the reason for being called so, perhaps because jocong that day roly-poly, and haired hedgehog, or perhaps because Jocong the only child hick, wong ndeso unique and cute most easily insulted and persecuted, because they do not have relatives in Jakarta who can protect it.
Six years Jocong undergo the destiny of life in the dormitory orphans. During the same ups and downs get very complicated. It's true what was said Buya Hamka, charismatic cleric of all time. "Life is not a flat road and sprinkled with flowers, but sometimes doused in tears and blood".
Travelling the destiny of life kept going. True what the saying goes, the higher the grade he occupies, the higher the tests and examinations that it faces. Jocong exam was made greater, when his father chronic rheumatic pain and severe tuberculosis. Indeed he was very sad and chest tightness. Jocong not afford it at the hospital, even obatpun feels very expensive. Until finally, three years later his father died, in the very young (43 years old). His father died leaving a wife and four children were still in school. Finally all the responsibility moved to the shoulder.
From that moment he must be even harder to learn, to work to support his mother and younger siblings, and at the same time he started to want to edit sholehah woman who craves.
Indeed, trials and tests have sometimes feels very heavy. Sometimes he was patient, sometimes he was almost desperate. At that time Jocong not know that the testing in the course of destiny will be a door the greatest gift in life. The gift that will never be forgotten all time. Almighty and All-True God with all his words.
It is poignant taste left by the most beloved. This chest hurts. How heavy the shoulders have to bear the burden of the family. But through tears and sobs would never return them and will not be any solution. Until God gives guidance to discover how to navigate life. Then he got up, move on and start a life with vigor and renewed hope even without his beloved father.
Jocong aware that this was the time travel, which must be kept going toward the terminal destiny. Although sometimes this feels very heavy and bitter. But no river that are not tipped. Jocong and you are very confident in the promise of God
Previously unimaginable, this Jocong can learn in a favorite school in Jakarta, even able to finish school abroad for six years. And God has given space to be able to send to her four sisters. Jocong also given the opportunity to be around ASEAN and the Middle East. He could also be a scholar of International Relations Jampang first of Kampung Tengah. He was able to learn and teach entrepreneurship, have a good income, get married, have a house, have children, have a vehicle which is quite convenient and eventually tahadust bin'nikmat (sharing a happy story) with you through the book you are reading this.
Jocong very grateful to every miracle and God's grace, even though he was aware that the challenge ahead is getting larger and more complicated. But every son of Adam are required to believe that in this world nothing is impossible.
Although we are aware that the destiny of success and happiness can not be achieved for free. But everything must be paid for with determination, the intention is sincere, maximum effort and courage to take risks. In line with what was said
